Sejarah
perjuangan umat Islam dalam pentas peradaban dunia berlangsung sangat lama
sekitar 13 abad, yaitu sejak masa kepemimpinan Rasulullah Saw di Madienah
(622-632M); Masa Daulat Khulafaur Rasyidin (632-661M); Masa Daulat Umayyah
(661-750M) dan Masa Daulat Abbasiyah (750-1258 M) sampai tumbangnya
Kekhilafahan Turki Utsmani pada tanggal 28 Rajab tahun 1342 H atau bertepatan
dengan tanggal 3 Maret 1924 M, dimana masa-masa kejayaan dan puncak keemasannya
banyak melahirkan banyak ilmuwan muslim berkaliber internasional yang telah
menorehkan karya-karya luar biasa dan bermanfaat bagi umat manusia yang terjadi
selama kurang lebih 700 tahun, dimulai dari abad 6 M sampai dengan abad 12 M.
Pada masa tersebut, kendali peradaban dunia berada pada tangan umat Islam.
Pada
saat berjayanya peradaban Islam semangat pencarian ilmu sangat kental dalam
kehidupan sehari-hari. Semangat pencarian ilmu yang berkembang menjadi tradisi
intelektual secara historis dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap
al-Qur'an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw yang kemudian dipahami,
ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi' tabiin dan para
ulama yang datang kemudian dengan merujuk pada Sunnah Nabi Muhammad saw.
1. Periode Daulat Umayyah
(661-750m)
Masa
Kedaulatan Umayyah berlangsung selama lebih kurang 90 tahun. Beberapa orang
Khalifah besar Bani Umayyah ini adalah Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M),
Abdul Malik bin Marwan (685- 705 M), Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), Umar
bin Abdul Aziz (717- 720 M) dan Hasyim bin Abdul Malik (724- 743 M).
Awal
berlangsungya periode Daulat Umayyah lebih memprioritaskan pada perluasan
wilayah kekuasaan. Ekspansi wilayah yang sempat terhenti pada masa Khalifah
Utsman dan Khalifah Ali dilanjutkan kembali oleh Daulat Umayyah. Pada zaman
Muawiyah, Tunisia ditaklukkan. Di sebelah Timur, Muawiyah dapat menguasai
daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan
lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel.
Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah
Abdul Malik. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil
menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya
bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab
sampai ke Maltan.
Ekspansi
ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul Malik.
Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban,
dimana umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan
kurang lebih sepuluh tahun, tercatat bahwa pada tahun 711 M merupakan suatu
ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa.
Setelah Al-Jazair dan Marokko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, panglima
pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara
Marokko dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal
dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan
demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol,
Cordova, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain
seperti Sevi'e, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru
setelah jatuhnya Cordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah
karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat
kekejaman penguasa. Pada zaman Umar bin Abdul Aziz, serangan dilakukan ke
Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin
Abdullah Al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia
mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours,
Al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping
daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah juga
jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah.
Dengan
keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah
kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah
itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak,
sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan,
Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.
Disamping
ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di
berbagai bidang. Pada bidang pengembangan keilmuan, Daulat Umayyah mengawalinya
dengan mengeluarkan sebuah kebijakan startegis. Adalah Khalifah Abdul Malik
(685-705M) merupakan Khalifah pertama yang berhasil melakukan berbagi
pembenahan administrasi pemerintahan dimana beliau memerintahkan penggunaan
Bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan dan kenegaraan di
seluruh wilayah Islam yang membentang dari Pegunungan Thian Shan di sebelah
Timur sampai Pegunungan Pyrenees di Sebelah Barat termasuk dalam berbagai
administrasi kenegaraan lainnya yang pada perkembangan selanjutnya Bahasa Arab
menjadi bahasa umum sebagai bahasa pengantar dunia (lingua franca), juga
menjadi bahasa diplomatik antar Bangsa diantara Barat dan Timur bahkan
berkembang menjadi bahasa ilmiah sampai kepada zaman renaissance, hingga Roger
Bacon (1214-1294 M) dari Oxford ahli pikir Inggeris terbesar itu, menurut
Ecyclopedia Britanica, 1951, volume II, halaman 191-197, mendorong sedemikian
rupa untuk mempelajari Bahasa Arab guna memperoleh pengetahuan yang sangat
murni, yang menyatakan bahwa: “Roger Bacon, placing Averroes beside Aristole
and Avicenna, recomends the study of Arabic as the only way of getting the
knowledge which bad versions obscured”, yakni “menganjurkan mempelajari Bahasa
Arab sebagai jalan satu-satunya bagi memperoleh ilmu yang telah dikaburkan oleh
versi-versi yang jelek” sebelumnya.
Kemajuan
tradisi intelektual dan ilmu pengetahuan pada zaman Daulat Umayyah di Andalusia
dirasakan oleh masyarakat Eropa. Oliver Leaman menggambarkan kondisi kehidupan
intelektual di sana sebagai berikut:
“….pada masa peradaban agung
[wujud] di Andalus, siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang
ilmiyah ia harus pergi ke Andalus. Di waktu itu banyak sekali problem dalam
literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke
Andalus maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan
masalah-masalah itu. Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan
tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, tehnik
dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, dimana beberapa
universitas penting berada”.
Pada
bidang lainnya, pembangunan yang dilakukan Muawiyah diantaranya mendirikan
dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap
dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan
bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim
(qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Qadhi adalah seorang
spesialis dibidangnya. Khalifah Abdul Malik mengubah mata uang Bizantium dan
Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia
mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan
Arab. Keberhasilan Khalifah Abdul Malik diikuti oleh puteranya Al-Walid bin
Abdul Malik (705-715 M) seorang yang berkemauan keras dan berkemampuan
melaksanakan pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk orang cacat. Semua
personel yang terlibat dalam kegiatan yang humanis ini digaji oleh negara
secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah
dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan
masjid-masjid yang megah.
Pada
lapangan perdagangan yakni pada saat peradaban Islam telah menguasai dunia
perdagangan sejak permulaan Daulat Umayyah (661-750M), dimana pesisir lautan
Hindia sampai ke Lembah Sind, sehingga terjalin kesatuan wilayah yang luas dari
Timur sampai Barat yang berimplikasi terhadap lancarnya lalu-lintas dagang di
dataran antara Tiongkok dengan dunia belahan Barat pegunungan Thian Shan
melalui Jalan Sutera (Silk Road) yang terkenal itu, yang kemudian terbuka pula
jalur perdagangan melalui Teluk Parsi, Teluk Aden yang menghubungkannya dengan
kota-kota dagang di sepanjang pesisir Benua Eropa, menyebabkan “kebutuhan Eropa
pada saat itu amat tergantung pada kegiatan dagang di dalam wilayah
Islam”.
2. Periode daulat abbasiyah
(132h/750m s.d. 656h/1258 m)
Masa
Kedaulatan Abbasiyah berlangsung selama 508 tahun, sebuah rentang sejarah yang
cukup lama dalam sebuah peradaban. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan
politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi
lima periode: (1) Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode
pengaruh Persia pertama; (2) Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut
pereode pengaruh Turki pertama; (3) Periode Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M),
masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode
ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua; (4) Periode Keempat (447 H/1055
M-590 H/l194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah
Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua; (5) Periode
Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti
lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Tidak
seperti pada periode Umayyah, Periode pertama Daulat Abbasiyah lebih
memprioritaskan pada penekanan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam
daripada perluasan wilayah. Fakta sejarah mencatat bahwa masa Kedaulatan
Abbasiyah merupakan pencapaian cemerlang di dunia Islam pada bidang sains,
teknologi dan filsafat. Pada saat itu dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh
Kekhilafahan Islam.
Masa
sepuluh Khalifah pertama dari Daulat Abbasiyah merupakan masa kejayaan
(keemasan) peradaban Islam, dimana Baghdad mengalami kemajuan ilmu pengetahuan
yang pesat. Secara politis, para khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat
dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain,
kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil
menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam
Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai
menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus
berkembang.
Pada
masa sepuluh Khalifah pertama itu, puncak pencapaian kemajuan peradaban Islam
terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M). Harun Al-Rasyid
adalah figur khalifah shaleh ahli ibadah; senang bershadaqah; sangat mencintai
ilmu sekaligus mencintai para ‘ulama; senang dikritik serta sangat merindukan
nasihat terutama dari para ‘ulama. Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah
gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari
golongan Kristen dan penganut agama lainnya yang ahli. Ia juga banyak
mendirikan sekolah, yang salah satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul
Hikmah, sebagai pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi
dengan perpustakaan yang besar. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan
sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga
dapat membaca, menulis dan berdiskusi.
Harun
Al-Rasyid juga menggunakan kekayaan yang banyak untuk dimanfaatkan bagi
keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan.
Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping
itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan,
pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada
zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai
negara terkuat yang tak tertandingi.
Terjadinya
perkembangan lembaga pendidikan pada masa Harun Al Rasyid mencerminkan
terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan
oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah
berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
Pada
masa pemerintahan Abbasiyah pertama juga lahir para imam mazhab hukum yang
empat hidup Imam Abu Hanifah (700-767 M); Imam Malik (713-795 M); Imam Syafi'i
(767-820 M) dan Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M).
Pencapaian
kemajuan dunia Islam pada bidang ilmu pengetahuan tersebut tidak terlepas dari
adanya sikap terbuka dari pemerintahan Islam pada saat itu terhadap berbagai
budaya dari bangsa-bangsa sebelumnya seperti Yunani, Persia, India dan yang
lainnya. Gerakan penterjemahan yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745-775
M) hingga Harun Al-Rasyid berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan
umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi,
biologi, fisika dan sejarah.
Menurut
Demitri Gutas proses penterjemahan di zaman Abbasiyah didorong oleh motif
sosial, politik dan intelektual. Ini berarti bahwa para pihak baik dari unsur
masyarakat, elit penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini,
sehingga dampaknya secara kultural sangat besar.
Gerakan
penerjemahan pada zaman itu kemudian diikuti oleh suatu periode kreativitas
besar, karena generasi baru para ilmuwan dan ahli pikir muslim yang terpelajar
itu kemudian membangun dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk
mengkontribusikannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Menurut
Marshall, proses pengislaman tradisi-tradisi itu telah berbuat lebih jauh dari
sekadar mengintegrasikan dan memperbaiki, hal itu telah menghasilkan energi
kreatif yang luar biasa. Menurutnya, periode kekhalifahan dalam sejarah Islam
merupakan periode pengembangan di bidang ilmu, pengetahuan dan kebudayaan,
dimana pada zaman itu telah melahirkan tokoh-tokoh besar di bidang filsafat dan
ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi. Berbagai pusat
pendidikan tempat menuntut ilmu dengan perpustakaan-perpustakaan besar
bermunculan di Cordova, Palermo, Nisyapur, Kairo, Baghdad, Damaskus, dan
Bukhara, dimana pada saat yang sama telah mengungguli Eropa yang tenggelam
dalam kegelapan selama berabad-abad. Kehidupan kebudayaan dan politik baik dari
kalangan orang Islam maupun non-muslim pada zaman kekhilafahan dilakukan dalam
kerangka Islam dan bahasa Arab, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan agama dan
suku yang plural.
Pada
saat itu umat Islam telah berhasil melakukan sebuah akselerasi, jauh
meninggalkan peradaban yang ada pada saat itu. Hidupnya tradisi keilmuan,
tradisi intelektual melalui gerakan penerjamahan yang kemudian dilanjutkan
dengan gerakan penyelidikan yang didukung oleh kuatnya elaborasi dan spirit
pencarian, pengembangan ilmu pengetahuan yang berkembang secara pesat tersebut,
mengakibatkan terjadinya lompatan kemajuan di berbagai bidang keilmuan yang
telah melahirkan berbagai karya ilmiah yang luar biasa.
Menurut
Oliver Leaman proses penterjemahan yang dilakukan ilmuwan muslim tidak hanya
menterjemahkan karya-karya Yunani secara ansich, tetapi juga mengkaji teks-teks
itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran
Islam. Proses asimilasi tersebut menurut Thomas Brown terjadi ketika peradaban
Islam telah kokoh. Sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadapsi sehingga
masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam. Proses ini menggambarkan betapa
tingginya tingkat kreativitas ilmuwan muslim sehingga dari proses tersebut
telah melahirkan pemikiran baru yang berbeda sama sekali dari pemikiran Yunani
dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani.
Pada
masa-masa permulaan perkembangan kekuasaan, Islam telah memberikan kontribusi
kepada dunia berupa tiga jenis alat penting yaitu paper (kertas), compass
(kompas) and gunpowder (mesiu). Penemuan alat cetak (movable types) di Tiongkok
pada penghujung abad ke-8 M dan penemuan alat cetak serupa di Barat pada
pertengahan abad 15 oleh Johann Gutenberg, menurut buku Historians’ History of
the World, akan tidak ada arti dan gunanya jika Bangsa Arab tidak menemukan
lebih dahulu cara-cara bagi pembuatan kertas.
Pencapaian
prestasi yang gemilang sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang dilakukan
pada zaman Daulat Abbasiah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan
muslim yang mashur dan berkaliber internasional seperti : Al-Biruni (fisika,
kedokteran); Jabir bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism)
pada ilmu matematika; Al-Kindi (filsafat); Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji
(astronomi); Abu Ali Al-Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik; Ibnu
Sina (Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd
(Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi). Mereka
telah meletakkan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Beberapa
ilmuwan muslim lainnya pada masa Daulat Abbasiyah yang karyanya diakui dunia
diantaranya:
·
Al-Razi
(guru Ibnu Sina), berkarya dibidang kimia dan kedokteran, menghasilkan 224
judul buku, 140 buku tentang pengobatan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin.
Bukunya yang paling masyhur adalah Al-Hawi Fi ‘Ilm At Tadawi (30 jilid, berisi
tentang jenis-jenis penyakit dan upaya penyembuhannya). Buku-bukunya menjadi
bahan rujukan serta panduan dokter di seluruh Eropa hingga abad 17. Al-Razi
adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia
juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya,
ilmu kedokteraan berada di tangan Ibnu Sina;
·
Al-Battani
(Al-Batenius), seorang astronom. Hasil perhitungannya tentang bumi mengelilingi
pusat tata surya dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, 24 detik, mendekati
akurat. Buku yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij dalam bahasa latin: De
Scienta Stellerum u De Numeris Stellerumet Motibus, dimana terjemahan tertua
dari karyanya masih ada di Vatikan;
·
Al
Ya’qubi, seorang ahli geografi, sejarawan dan pengembara. Buku tertua dalam
sejarah ilmu geografi berjudul Al Buldan (891), yang diterbitkan kembali oleh
Belanda dengan judul Ibn Waddih qui dicitur al-Ya’qubi historiae;
·
Al
Buzjani (Abul Wafa). Ia mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika
(geometri dan trigonometri).
Sejarah
telah membuktikan bahwa kontribusi Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di
dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantahkan. Bahkan bermula dari
dunia Islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi (penyebaran, penularan),
diseminasi dan proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya
diliputi oleh masa ‘the Dark Ages’ mendorong munculnya zaman renaissance atau
enlightenment (pencerahan) di Eropa.
Melalui
dunia Islam-lah mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu
pengetahuan modern. Menurut George Barton, ketika dunia Barat sudah cukup masak
untuk merasakan perlunya ilmu pengetahuan yang lebih dalam, perhatiannya
pertama-tama tidak ditujukan kepada sumber-sumber Yunani, melainkan kepada
sumber-sumber Arab.
Sebelum
Islam datang, menurut Gustav Le Bon, Eropa berada dalam kondisi kegelapan, tak
satupun bidang ilmu yang maju bahkan lebih percaya pada tahayul. Sebuah kisah menarik terjadi pada
zaman Daulat Abbasiah saat kepemimpinan Harun Al-Rasyid, tatkala beliau
mengirimkan jam sebagai hadiah pada Charlemagne seorang penguasa di Eropa.
Penunjuk waktu yang setiap jamnya berbunyi itu oleh pihak Uskup dan para Rahib
disangka bahwa di dalam jam itu ada jinnya sehingga mereka merasa ketakutan,
karena dianggap sebagai benda sihir. Pada masa itu dan masa-masa berikutnya,
baik di belahan Timur Kristen maupun di belahan Barat Kristen masih
mempergunakan jam pasir sebagai penentuan waktu.
Bagaimana
kondisi kegelapan Eropa pada zaman pertengahan (Abad 9 M) bukan hanya pada
aspek mental-dimana cenderung bersifat takhayul, demikian pula halnya dalam
aspek fisik material. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh William
Drapper:
“Pada zaman itu Ibu Kota pemerintahan Islam di Cordova merupakan kota paling beradab di Eropa, 113.000 buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan dan toko-toko buku, masjid-masjid dan istana yang banyak. Cordova menjadi mashur di seluruh dunia, dimana jalan yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu (yakni abad 15 M), satu lampu umumpun tidak ada. Di Paris berabad-abad sesudah zaman Cordova, orang yang melangkahi ambang pintunya pada saat hujan, melangkah sampai mata kakinya ke dalam lumpur”.
“Pada zaman itu Ibu Kota pemerintahan Islam di Cordova merupakan kota paling beradab di Eropa, 113.000 buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan dan toko-toko buku, masjid-masjid dan istana yang banyak. Cordova menjadi mashur di seluruh dunia, dimana jalan yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu (yakni abad 15 M), satu lampu umumpun tidak ada. Di Paris berabad-abad sesudah zaman Cordova, orang yang melangkahi ambang pintunya pada saat hujan, melangkah sampai mata kakinya ke dalam lumpur”.
Menurut
Philip K. Hitti, jarak peradaban antara kaum muslimin di bawah kepemimpinan
Harun Al-Rasyid jauh melampaui peradaban yang ada pada orang-orang Kristen
pimpinan Charlemagne.
Pertengahan
abad 9 M peradaban Islam telah meliputi seluruh Spanyol. Masuknya Islam ke
Spanyol yaitu setelah Abdur Rahman ad-Dakhil (756 M) berhasil membangun
pemerintahan yang berpusat di Andalusia.
Melalui
Spanyol, Sicilia dan Perancis Selatan yang berada langsung di bawah
pemerintahan Islam, peradaban Islam memasuki Eropa. Bahasa Arab menjadi bahasa
internasional yang digunakan berbagai suku bangsa di berbagai negeri di dunia.
Baghdad di Timur dan Cordova di Barat, dua kota raksasa Islam menerangi dunia
dengan cahaya gilang-gemilang. Sekitar tahun 830 M, Alfonsi-Raja Asturia telah
mendatangkan dua sarjana Islam untuk mendidik ahli warisnya. Sekolah Tinggi
Kedokteran yang didirikan di Perancis (di Montpellier) dibina oleh beberapa
orang Mahaguru dari Andalusia. Keunggulan ilmiah kaum muslimin tersebar jauh memasuki
Eropa dan menarik kaum intelektual dan bangsawan Barat ke negeri-negeri
pusatnya. Diantara mereka terdapat Roger Bacon (Inggeris); Gerbert d’Aurillac
yang kemudian menjadi Paus Perancis pertama dengan gelar Sylvester II, selama 3
tahun tinggal di Todelo mempelajari ilmu matematika, astronomi, kimia dan ilmu
lainnya dari para sarjana Islam.
Tidaklah
mengherankan, karena pada saat kekhilafahan Islam berkuasa saat itu Spanyol
menjadi pusat pembelajaran (centre of learning) bagi masyarakat Eropa dengan adanya
Universitas Cordova. Di Andalusia itulah mereka banyak menimba ilmu, dan dari
negeri tersebut muncul nama-nama ‘ulama besar seperti Imam Asy-Syathibi
pengarang kitab Al-Muwafaqat, sebuah kitab tentang Ushul Fiqh yang sangat
berpengaruh; Ibnu Hazm Al-Andalusi pengarang kitab Al-Fashl fi al-Milal wa
al-Ahwa’ wa an-Nihal, sebuah kitab tentang perbandingan sekte dan agama-agama
dunia, dimana bukti tersebut telah mengilhami penulis-penulis Barat untuk
melakukan hal yang sama.
Di
Andalusia (Spanyol bagian Selatan), berbagai universitasnya pada saat itu
dipenuhi oleh banyak mahasiswa Katolik dari Perancis, Inggeris, Jerman dan
Italia. Pada masa itu, para pemuda Kristen dari berbagai negara di Eropa
dikirim berbondong-bondong ke sejumlah perguruan tinggi di Andalusia guna
menimba ilmu pengetahuan dan teknologi dari para ilmuwan muslim. Adalah Gerard
dari Cremona; Campanus dari Navarra; Aberald dari Bath; Albert dan Daniel dari
Morley yang telah menimba ilmu demikian banyak dari para ilmuwan muslim, untuk
kemudian pulang dan menggunakannya secara efektif bagi penelitian dan
pengembangan di masing-masing bangsanya. Dari sini kemudian sebuah revolusi
pemikiran dan kebudayaan telah pecah dan menyebarluas ke seluruh masyarakat dan
seluruh benua. Para pemuda Kristen yang sebelumnya telah banyak belajar dari
para ilmuwan muslim, telah berhasil melakukan sebuah transformasi nilai-nilai
yang unggul dari peradaban Islam yang kemudian diimplementasikan pada peradaban
mereka (Barat) yang selanjutnya berimplikasi terhadap kemajuan diberbagai
bidang ilmu pengetahuan
Semaraknya
pengembangan ilmu dan pengetahuan di dunia Islam diindikasikan dengan banyaknya
perpustakaan tersebar di kota-kota dan negeri-negeri Islam yang jumlahnya
sangat fantastis. Sejarah mencatat, perpustakaan di Cordova pada abad 10 Masehi
mempunyai 600.000 jilid buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Cairo mempunyai
2.000.000 jilid buku. Perpustakaan Al Hakim di Andalusia mempunyai berbagai
buku dalam 40 kamar yang setiap kamarnya berisi 18.000 jilid buku. Perpustakaan
Abudal Daulah di Shiros (Iran Selatan) buku-bukunya memenuhi 360 kamar.
Sementara ratusan tahun sesudahnya (abad 15 M), menurut catatan Catholik
Encyclopedia, perpustakaan Gereja Canterbury yang merupakan perpustakaan dunia
Barat yang paling kaya saat jumlah bukunya tidak melebihi 1.800 jilid buku.
Sejarah
juga mencatat bahwa Uskup Agung Raymond di Spanyol mendirikan Badan Penterjemah
di Todelo yang ditujukan guna menterjemahkan sebagian besar karangan
sarjana-sarjana Muslim tentang ilmu pasti, astronomi, kimia, kedokteran,
filsafat, dll, dimana waktu yang dibutuhkan untuk menterjemahkannya yaitu lebih
dari satu setengah abad (1135-1284 M).
Dari
pusat-pusat peradaban Islam yang meliputi Baghdad, Damaskus, Cordova, Sevilla,
Granada dan Istanbul, telah memancarkan sinar gemerlap yang menerangi seluruh
penjuru dunia terlebih Cordova, Sevilla, Granada yang merupakan bagian dari
kekuasaan Islam di Spanyol telah banyak memberikan kontribusi besar terhadap
tumbuh dan berkembangnya peradaban modern di dunia Barat.
5. Periode Setelah Daulat
Abbasiyah Sampai Tumbangnya Kekhilafahan Turki Utsmani
Pada
masa Khilafah Utsmani, para ahli sejarah sepakat bahwa zaman Khalifah Sulaiman
Al-Qanuni (1520-1566 M) merupakan zaman kejayaan dan kebesaran yang pada
masanya telah jauh meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer, sains
dan politik.
Pasca
berakhirnya keluasaan Daulat Abbasiyah, kepemimpinan Islam berlanjut dengan
kepemimpinan Daulat Utsmaniyah. Daulat Utsmaniyah yang juga dikenal dengan
sebutan Kesultanan atau Kekaisaran Turki Ottoman, didirikan oleh Bani Utsman,
yang selama lebih dari enam abad kekuasaannya (1299 s.d. 1923) dipimpin oleh 36
orang sultan, sebelum akhirnya runtuh dan terpecah menjadi beberapa negara
kecil.
Kesultanan
ini menjadi pusat interaksi antar Barat dan Timur selama enam abad. Pada puncak
kekuasaannya, Kesultanan Utsmaniyah terbagi menjadi 29 propinsi dengan
Konstantinopel (sekarang Istambul) sebagai ibukotanya. Pada abad ke-16 dan
ke-17, Kesultanan Usmaniyah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dengan
angkatan lautnya yang kuat. Kekuatan Kesultanan Usmaniyah terkikis secara
perlahan-lahan pada abad ke-19, sampai akhirnya benar-benar runtuh pada abad
20. Musuh-musuh Islam membutuhkan waktu selama satu abad untuk melepaskan
ikatan ideologi Islam dari tubuh umat Islam, yang pada akhirnya tanggal 3 Maret
1924 M yang bertepatan dengan tanggal 28 Rajab 1342 Hijriah, melalui Mustafa
Kemal Attaturk yang merupakan agen Inggris dan anggota Freemasonry (sebuah
organisasi Yahudi), membubarkan institusi Kekhilafahan Islam terakhir di Turki
dan menggantikannya dengan Republik Turki. Maka, sejak saat itu ideologi Islam
benar-benar terkubur ditandai dengan dihilangkannya institusi khilafah oleh
majelis nasional Turki dan diusirnya Khalifah terakhir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar