Peradaban Islam terbagi menjadi
beberapa masa. Yaitu masa kemajuan Islam (650-1000 M), masa disintegrasi
(1000-1250 M) dan masa kemunduran Islam (1250-1500 M). Masa kejayaan Islam ada
pada masa Khulafau ar-Rasyidin, Bani Umayyah dan Bani Abbasyiah. Sedangkan masa
disintegrasi terjadi ketika dinasti-dinasti banyak yang memerdekakan diri, dan
terjadi perebutan kekuasaan dipusat pemerintahan. Dan masa kemunduran Islam
terjadi ketika ada penyerbuan dari bangsa Mongol dan serangan dari Timur Lenk.
Pada awal kebangkitannya, Eropa
menghadapi tantangan yang sangat berat. Di hadapannya masih ada
kekuatan-kekuatan perang Islam yang sulit dikalahkan, terutama Kerajaan Usmani
yang berpusat di Turki. Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus lautan yang
sebelumnya hanya dipandang sebagai dinding yang membatasi gerak mereka. Setelah
Christoper Colombus menemukan Benua Amerika (1492 M) dan Vasco Da Gama
menemukan jalan ke timur melalui Tanjung Harapan (1498 M), Benua Amerika dan
kepulauan Hindia akan segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu,
sungguh tak terkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan,
karena tidak tergantung lagi pada jalur lama yang dikuasai umat Islam.
Perekonomian bangsa-bangsa Eropa pun
semakin maju karena daerah-daerah baru terbuka baginya. Mereka dapat memperoleh
harta kekayaan yang tak terhingga untuk meningkatkan kesejahteraan negerinya.
Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang
sejak lama mengalami kemunduran.
Kemajuan Barat itu dipercepat oleh
penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Penemuan mesin uap yang kemudian
melahirkan Revolusi Industri di Eropa semakin memantapkan kemajuan mereka.
Teknologi perkapalan dan militer berkembang dengan pesat. Dengan demikian,
Eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan perekonomian dan
perdagangan dari dan ke seluruh dunia. Bahkan, satu demi satu negeri Islam
jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri jajahan.
Negeri-negeri
Islam yang pertama kali jatuh ke bawah kekuasaan Eropa adalah negeri-negeri
yang jauh dari pusat kekuasaan Kerajaan Usmani, karena kerajaan ini meskipun
terus mengalami kemunduran, ia masih disegani dan dipandang masih cukup kuat
untuk berhadapan dengan kekuatan militer Eropa waktu itu. Negeri-negeri Islam
yang pertama dapat dikuasai Eropa adalah negeri-negeri Islam di Asia Tenggara
dan di anak benua India. Sementara, negeri-negeri Islam di timur tengah yang
berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani, baru diduduki Eropa pada masa
berikutnya.
A. Persinggungan Periode Islam Dengan
Peradaban Eropa
Islam masuk Eropa pertama kali yaitu
ke negeri Spanyol (Andalusia). Tepatnya pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715
M), salah seorang Khlifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dalam
penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan yang dapat dikatakan paling
berjasa memimpin satuan pasukan Islam ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik,
Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Kemudian mereka melakukan penaklukan
terhadap Sidonia, Karmona, Sevilla, Merida serta mengalahkan kerajaan Ghotic
dan Theodomir di Oriheula. Gelombang perluasan wilayah berikutnya yaitu muncul
pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tahun 99 H/717 M.
Perkembangan Islam di Spanyol pun terus berkembang hingga lebih dari tujuh
setengah abad.
Perkembangan Islam di Spanyol berupa
perkembangan politik dan dalam bidang peradaban. Dalam kurun waktu yang telah
disebutkan tadi kekuasaan Islam di Spanyol mengalami puncak kejayaan umat Islam,
sehingga membawa pengaruhnya hingga Eropa dan bahkan dunia kepada kemajuan yang
lebih kompleks.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas
Eropa muncul dari mahasiswa Eropa yang belajar di Universitas Islam di Spanyol
yang kemudian membawa kitab-kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin ke
negaranya masing-masing. Hal ini menimbulkan adanya gerakan kebangkitan kembali
(Renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. berkembangnya
pemikiran Yunani kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang
dipelajari dan kemudian diterjemah kembali ke dalam bahasa Latin.
Walaupun Islam terusir dari negeri
Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tapi ia telah membidani gerakan gerakan
penting di Eropa. Gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayan Yunani
klasik (Renaissance) yang bermula di Italia, gerakan Reformasi
pada abad ke-16 M, Rasionalisme pada abad ke-17 M dan pencerahan (Aufklarung)
pada abad ke-18 M.
B. Perang Salib Dan Infasi Mongol
v
Perang Salib
Penyebab
terjadinya perang salib adalah gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp
Arselan. Alp Arselan dengan hanya dengan tentara yang berkekuatan 15.000
prajurit, dalam peristiwa Manzikart, berhasil mengalahkan tentara Romawi yang
berjumlah 200.000 orang yang terdiri dari pasukan Romawi, Ghuz, Al-Akraj,
Al-Hajr, Prancis dan Armenia.
Peristiwa
inilah yang menyebabkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen
terhadap orang Islam. Kebencian ini semakin bertambah setelah dinasti Seljuk
dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fathimiyah
yang berkekuasaan di Mesir. Penguasa Seljuk menetapkan beberapa peraturan yang
sangat memberatkan kaum Kristen yang ingin berziarah ke sana. Kemudian pada
tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya
melakukan perang suci, yang terkenal dengan perang salib. Perang ini terjadi
pada tiga periode.
1. Periode Pertama
Pada
musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Prancis dan
Norman berangkat menuju Konstantinopel kemudian menuju Palestina. Tentara salib
yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Reymond berhasil memperoleh
kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menguasai
Nicea dan tahun 1098 mereka dapat menaklukkan Raha (Edessa) dan Antiochea.
Kemudian mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis (1099), Akka (1104),
Tripoli (1109), Tyre (1124).
2. Periode kedua
Pada
tahun 1149 M, Nuruddin Zanki penguasa Moshul dan Irak berhasil mengusai
Antiochea dan pada tahun 1151 M berhasil menguasai seluruh Edessa (Raha). Hal
inilah yang menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib II. Pauz
Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut oleh Raja Prancis Louis VII
dan Raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut
wilayah Kristen di Syiria, namun penyerangan mereka tidak berhasil karena
dihambat oleh Nuruddin Zanki.
Lalu
Nuruddin wafat tahun 1174 M, pimpinan perang kemudian digantikan oleh
Shalahuddin Al-Ayyubi dan mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir. Pada tahun
1187 M Shalahuddin dapat merebut kembali Yerussalem. Jatuhnya Yerussalem ke
tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara pasukan salib. Kali ini
tentara salib dipimpin oleh Frederic Barbarossa Raja Jerman, Richard
The Lion Hart Raja Inggris, dan Philip Augustus Raja Perancis (1189
M). Namun mereka hanya bisa menduduki Akka. Tapi mereka tidak berhasil memasuki
Palestina. pada tanggal 2 Nopember 1192 M dibuat perjanjian antara pasukan
salib dengan Salahuddin Al-Ayyubi, yang berisi tentang orang Kristen yang ingin
berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu.
3. Periode ketiga
Tentara
salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka
berniat merebut Mesir terlebih dahulu kemudian baru menguasai Palestina.
kemudian mereka berhasil menduduki Dimyat (1219). Waktu itu raja Mesir dari
dinasti Ayyubiyah melakukan perjanjian dengan raja Frederic II. Isinya antara
lain Frederic bersedia melepaskan Dimyat, sementara Al-Malik Al-Kamil
melepaskan Palestina, dan Frederic menjamin keamanan kaum muslimin di sana.
Dalam perkembangan berikutnya kaum muslimin dapat merebut Palestina kembali
dari tangan orang Kristen pada tahun 1947 di masa pemerintahan Al-Malik
Al-Shalih.
Demikianlah
perang salib terus berkobar di Timur. Meskipun umat Islam berhasil
mempertahankan daerahnya dari tentara salib, namun kerugian yang mereka derita
sangat banyak sekali.
v Invasi Mongol
Jatuhnya
kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri
ke-Khalifahan dinasti Abbasiyah, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran
peradaban Islam. Karena Baghdad yang menjadi pusat kebudayaan dan peradaban
Islam yang kaya dengan ilmu pengetahuan itu di bumi hanguskan oleh pasukan
Mongol yang di pimpin oleh Hulagu Khan.
Bangsa
Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia, yang membentang dari Asia
Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet, dan Manchuria Barat serta Turkistan
Timur. Dalam rentan waktu yang sangat panjang kehidupan Mongol tetap sederhana,
mereka mendirikan kemah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
mengembala kambing dan hidup dari hasil buruan. Kemajuan bangsa Mongol secara
besar-besaran terjadi pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan. Ia berhasil
menyatukan 13 suku yang ada waktu itu. Kemudian setelah Yasugi meninggal,
putranya yang bernama Timujin tampil sebagai pemimpin. Dalam waktu 30 tahun ia
memperkuat angkatan perangnya dengan menyatukan bangsa Mongol dengan bangsa
lain yang menjadi jajahannya sehingga menjadi pasukan yang tangguh.
Pada
tahun 1206 M ia mendapat gelar Jengis Khan, yang beararti Raja Yang
Perkasa. Kemudian Jengis Khan melakukan ekspansi ke kerajaan
Islam. Mereka memulai ekspansinya dari kota Bukhara, Samarkand, Hamadzan,
Quzwain, dan sampai perbatasan Irak. Negeri-negeri Islam yang mereka kuasai
mereka hancurkan dengan merusak benteng, sekolah, masjid dan isinya yang sangat
bernilai.
Saat
kondisi Jengis Khan mulai melemah ia membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat
bagian kepada empat orang putranya, yaitu Juchi, Chagatai, Ogotai dan Tuli.
Keempat putra Jengis Khan ini terus berusaha menguasai negeri-negeri yang
pernah mereka taklukkan. Putra bungsu Jengis Khan, Tuli Khan berhasil
menaklukkan Khurasan. Karena kerajaan-kerajaan Islam sudah melemah, maka Tuli
Khan dengan mudah menguasai Irak yang menjadi pusat kerajaan Islam. Ketika Tuli
Khan meninggal (1256 M) ia digantikan oleh putranya yang bernama Hulagu Khan.
Kemudian Hulagu Khanlah yang menghancurkan Baghdad.

Gak ada referensi ya kak
BalasHapusGak ada referensinya kak?
BalasHapus