Jumat, 08 November 2013

PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL




  1. Masuknya Islam ke Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Penguasa sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul malik mengangkat Hasan Ibnu Nu’man Al-ghassani menjadi gubernur didaerah itu dan digantikan oleh Musa Bin Nushair. Wilayah afrika utara pertama kali dikalahkan khalifah Bani Umayyah memakan waktu selama 53 tahun yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Mu’awwiyah Ibnu Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa Al-Walid). Sebelum dikalahkan dikawasan ini terdapat kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Afrika utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.
      Ada 3 pahlawan Islam yang dikatakan paling berjasa yaitu :
1.      Tharif Ibnu Malik
2.      Thariq Ibnu Ziyad
3.      Musa Ibnu Nushair
      Tharif menyebrangi selat yang ada diantara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, 500 orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Didorong oleh keberhasilan Tharif, Musa Ibnu Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang dibawah pimpinan Thariq Bin Ziyad.
Gunung tempat pertama kali Thariq mendarat dikenal dengan nama Gibraltar (jabal Thariq). Dalam pertempuran di Bakkah, Raja Rodrick dapat dikalahkan.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan khalifah Umar Ibnu Abdil Aziz tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan ke daerah sekitar pegunungan Pyerenia dan Prancis selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan terbunuh pada tahun 102 H.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat didalam negeri Spanyol itu sendiri.
Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orangIslam, kondisi sosial, politik dan ekonomi begeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi kedalam beberapa begeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothik bersikap tidak toleran terhadap penganut aliran agama kristen yang bukan aliran Monofisit. Aliran Monofisit didalam dunia kristen menganut pendirian bahwa Jesus Kristus itu hanya memiliki satu zat saja. Aliran paham ini terbagi dua, satu pihak berpendirian bahwa jesus Kristus hanya memiliki zat insaniyat (kemanusiaan) saja. Pihak lain berpendapat bahwa jesus Kristus memiliki zat ilahiyat (ketuhanan) saja, dan berpendirian bahwa paham trinitas (Allah Maha Esa itu terdiri atas tiga oknum) adalah bid’ah.
Awal kehancuran kerajaan Goth adalah ketika raja Roderich memindahkan ibukota negaranya dari Sevilia ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari OPPAS dan ACHILA (kakak dan anak Witiza). Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian (mantan penguasa wilayah Saptah). Julian juga mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol. Julian bahkan memberikan pinjaman 4 buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Thariq dan Musa.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajurit islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya.
Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Merekapun cakap, berani dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan dan tolong-menolong.


  1. Perkembangan Islam di Spanyol
1.      Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Terdapat perbedaan pandangan khailfah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Oleh karena itu ada terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qais (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan).
Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang manghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan dibidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman Ad-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
2.      Periode Kedua (755-912 M)
Spanyol berada dibawah pemerintahan yang begelar Amir (panglima atau gubernur) yang dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I  yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755M dan diberi gelar Ad-dkhil (yang masuk ke Spanyol). Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah : Abdurrahman Ad-dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman Al-Ausath, Muhammad Ibnu Abdurrahman, Mundzir Ibnu Muhammad dan Abdulloh Ibnu Muhammad.
Abdurrahman Ad-dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdurrahman Al-Ausath dikenal dengan penguasa yang cinta ilmu.
Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan kristen fanatik yang mendari kesyahidan (Martyrdom). Namun, gereja kristen lainnya diseluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu karena pemerintah Islam mengembangkan kebebasan beragama. Penduduk kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum kristen. Peribadatan tidak di halangi. Lebih dari itu mereka diizinkan mendirikan gereja baru, biara-biara disamping asrama rahib, atau lainnya. Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun.
3.      Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrhman III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya raja-raja kelompok yang dikenal dengan sebutan Mulukuth Thawaif.
Pada masa ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa AL-Muqtadir, khailfah daulah bani Abbas di Bagdad meniggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Saat yang peling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan bani Umayyah selama 150 tahun. Gelar ini dipakai mulai dari tahun 929 M. Khalifah terbesar pada masa ini adalah :
1.      Abdurrahman An-nasir (912-961 M)
2.      Hakam II (961-976 M)
3.      Hisyam II (976-1009 M)
Awal dari kehancuran khalifah bani Umayyah adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Pada tahun 981 M, khalifah menunjuk Ibnu Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilannya, ia mendapat gelar Al-Mansur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya Al-Muzaffar.
4.      Periode Keempat (1013-1086 M)
Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Mulukuth Thawaif, yang berpusat disuatu kota seperti Sevilla, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Sevilla. Umat islam kembali memasuki masa pertikaian intern dan banyak yang meminta bantuan kepada raja-raja Spanyol kalau ada perang saudara. Melihat kelemahan dan kekacauan itu, untuk pertama kalinya orang-orang kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan.
5.      Periode Kelima (1086-1248 M)
Islam Spanyol meskipun masih terbagi dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabitun (1086-1143 M), dan Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibnu  Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa islam disan yang telah mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia. Karena perpecahan dikalangan raja-raja Muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi penguasa sesudah Ibnu Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan dihantikan oleh dinasti Muwahhidun. Pada masa dinasti Mubaritun, Saragosa jatuh ketangan kristen, tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini.
6.      Periode Keenam (1248-1492 M)
Islam hanya berkuasa didaerah granada, dibawah dinasti Bani Akhmar (1232-1492 M). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti dizaman Abdurrahman An-Nasir. Tetapi secara politik, dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang kecil. Kekuasan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berkhir karena perselisihan orang-orang istana dalam meperebutkan kekuasaan. Abu Abdulloh Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya manjadi raja. Dia memberontak dan dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad Ibnu Sa’ad. Abu Abdulloh kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Issabela untuk menjatuhkannya. Dua penguasa kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abdulloh naik tahta.
Tentu saja Ferdinand dan Issabela tidak puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdulloh tidak kuasa menahan serangan-serangan orang kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar