Kebudayaan-kebudayaan seperti Mesopotamia, Sumeria, Assyria, Babylonia, Mesir Kuno dan lain-lain adalah kebudayaan-kebudayaan besar yang sudah mati, namun aspek-aspeknya masih hidup dan dikembangkan oleh suku-suku bangsa yang hidup di negeri-negeri sekitar jazirah Arab. Kebudayaan dan peradaban besar yang masih hidup ketika agama Islam muncul ialah kebudayaan Persia dan Rumawi atau Byzantium. Sampai abad ke-6 M ketika agama Islam mulai muncul, Rumawi dan Persia merupakan dua kemaharajaan besar yang saling bersaing dan berperang untuk merebut hegemoni politik, ekonomi dan ideologis di Asia Barat dan Eropah. Sedangkan keadaan bangsa Arab sendiri terpecah belah ke dalam puak-puak yang saling bersengketa dan menumpahkan darah.
Agama
Islam lahir di jazirah Arab. Sebelum agama Islam datang, negeri Arab
dikelilingi oleh berbagai kerajaan-kerajaan besar yang telah mengembangkan
peradaban dan kebudayaan besar, yang masih berpengaruh sampai datangnya agama
Islam. Kebudayaan-kebudayaan besar itu ada yang masih hidup dan berkembang, dan
ada pula yang sudah mati dan mandeg ketika agama Islam mulai tersebar luas.
1. Byzantium atau Rumawi Timur.
Kemaharajaan Rumawi
didirikan pada tahun 753 S.M. dengan ibukotanya Roma. Sampai abad ke-3 S.M
kekuasaan Romawi meliputi hampir sebagian besar Eropah, Anatolia, Iraq, Iran,
bagian barat India dan sebagian besar negeri-negeri di pantai utara Afrika yang
sekarang ini meliputi Mesir, Libya, Maroko dan Tunisia. Tetapi pada abad ke-2
S. M. Kemaharajaan Rumawi kehilangan wilayahnya di India dan pada saat yang
sama bangsa Persia dapat merebut kembali wilayah yang diduduki Rumawi Timur.
Sejak itu wilayah kemaharajaan Persia semakin luas. Pada saat yang sama
kemaharajaan Rumawi terpecah menjadi dua: Rumawi Barat dan Rumawi Timur. Pusat
pemerintahan Rumawi Barat ialah Roma dan pusat kemaharajaan Rumawi Timur ialah
Konstantinopel (Istanbul sekarang).
Sementara kemaharajaan
Rumawi Barat dalam perkembangannya mengalami perpecahaan, kemaharajaan Rumawi
Timur berkembang pesat dan semakin kuat. Wilayah-wilayah yang berhasil diduduki
sampai datangnya agama Islam meliputi Anatolia, Mesir, Palestina, Libanon,
Syria. Balkan, Yunani dan lain-lain. Tetapi pada abad ke-5 M kemaharajaan ini
mengalami kemunduran sebab dipimpin oleh orang-orang yang lemah. Baru pada awal
abad ke-6 M Byzantium bangkit kembali menjadi kemaharajaan yang kuat. Ini
berkat kepemimpinan kaisar Justianus I yang masyhur dan memerintah antara tahun
527-567 M. Pada masa pemerintahannya kerajaan ini berhasil merebut Afrika
Utara, Italia dan Sisilia yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Rumawi
Barat.
Untuk memperkuat
pemerintahannya Justianus I menyusun Undang-undang Baru Rumawi yang kelak
disebut Canon Justinian.
Sebelum undang-undang baru ini disusun, terdapat banyak madzab hukum di lingkungan
kemaharajaan Byzantium dengan sumber yang beranekaragam pula, sehingga
menyulitkan dalam pelaksanaannya. Akibatnya kekacauan sering kali terjadi.
Dengan adanya Kanun Justinian, yang dikenal juga sebagai Law of Rome, pemerintah
dapat menegakkan kembali supremasi hukum di seluruh negeri. Inilah jasa
terbesar Justianus dalam sejarah peradaban Eropa. Undang-undang dan hukum yang
diberlakukan di Eropa sampai kini bersumber dari Kanun Justinian.
Pada masa pemerintahan
Justianus banyak didirikan gereja-gereja megah dibangun dan banyak karya seni
khas Byzantium dihasilkan. Di ibukota Konstantinopel saja terdapat 25 bangunan
geraja yang megah dan indah, di antaranya yang paling masyhur ialah gereja Aya
Sophia. Ketika pasukan Turki Usmani merebut kota ini pada abad ke-15 M dan
merubah nama kota menjadi Istanbul, gereja Aya Sophia dirubah menjadi masjid,
sebagai pertukaran dirubahnya masjid Cordoba pada akhir abad ke-13 menjadi
gereja.
Sejak akhir abad ke-1 M
raja dan penduduk Rumawi Timur mulai memeluk agama Kristen dan menjadikan agama
ini sebagai agama resmi kerajaan. Sampai abad ke-5 M, agama Kristen terpecah
dalam beberapa madzab. Ismail Faruqi mengemukakan madzab-madzab yang tumbuh di
antaranya ialah Apollonairisme, Nestoria, Justinian, Monofisit, Monotelit dan
lain-lain. Ali Hasymi mengemukakan ada tiga madzab utama, yaitu Madzab Yaaqibah
(di Mesir, Habsyi dan sekitarnya), Madzhab Nasathirah (Mosul, Iraq dan Persia)
dan Madzab Mulkaniyah (Afrika Utara, Sisilia, Syria dan Spanyol). Perbedaan
madzab-madzab itu terlihat pada aqidahnya.
Madzab Yaaqibah
berkeyakinan bahwa Isa Almasih adalah Tuhan, dengan pengertian bahwa Tuhan dan
manusia bersatu dalam diri Isa Almasih. Madzab Nasathirah dan Mulkaniyah
berkeyakinan bahwa dalam diri Isa Almasih terdapat dua tabiat: (1) Tabiat
ketuhanan dan; (2) Tabiat kemanusiaan.
Karena perbedaan madzab
itu merupakan sumber sengketa yang langgeng dan mengancam keutuhan Byzantium,
Justianus I yang menganut madzab Ortodoks melarang madzab-madzab lain tumbuh.
Ini menimbulkan kegelisahan sosial yang luas. Pada tahun 534 M pecahlah
pemberontakan besar menentang kebijakan tersebut. Pembrontakan dapat ditindas.
Peristiwa ini menyebabkan para pemimpin dan penganut madzab Nestoria dan
Monofisit meninggalkan Byzantium. Mereka akhirnya memilih tempat bermukim di
wilayah yang dikuasai kemaharajaan Persia untuk mendapatkan perlindungan. Di
antara kota-kota yang dijadikan tempat ialah Antiokia, Edesse dan Jundishapur,
yang sejak lama telah lama telah merupakan pusat kegiatan intelektual dan kebudayaan.
Kebetulan yang memagang tampuk pemerintahan kemaharajaan Persia ialah kosru
Anusyirwan yang adil dan besar perhatiannya terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan sastra.
Di kota-kota inilah mereka
mengembangkan falsafah dan ilmu pengetahuan. Sampai munculnya agama Islam
kota-kota ini tetap berkembang menjadi pusat intelektual dan ilmu. Melalui
kota-kota inilah kelak transmisi ilmu dan pemikiran Yunani, Persia dan India ke
dalam peradaban dan kebudayaan Islam berlangsung.
Pada masa akhir
pemerintahan Justianus I Byzantium mulai mengalami kesukaran dan kemunduran.
Bangunan yang megah dan indah, serta istana-istana yang didirikan dengan biaya
tnggi mau tak mau telah menguras kekayaan negara. Belum lagi biaya yang harus
dikeluarkan untuk peperangan melawan kemaharajaan Persia yang terjadi secara
berkelanjutan. Untuk mengatasi persoalan ini kaisar memungut pajak yang tinggi
dan akibatnya rakyat menderita. Pada masa itu pula penyakit kolera berjangkit
dengan dahsyatnta dan membinasakan sepertiga penduduk Byzantium. Begitulah
Justianus I wafat saat negerinya mulai dilanda kemunduran.
Tetapi bagaimana pun
secara perlahan-lahan kekaisaran Byzantium bangkit kembali. Pada masa
pemerintahan Heraclius (610-641 M) Buyzantium berhasil memenangkan
peperangannya yang terakhir dengan Persia, saingannya yang tangguh.. Perang
dahsyat itu terjadi antara tahun 623-627 M. Pada tahun 627 M tentara Byzantium
mengalahkan tentara Persia yang kuat di Niniveh, Iraq. Kemudian berhasil
merebut kembali Syria dan Mesir yang diduduki Persia. Namun sayang sekali,
ketika Byzantium telah terbebas dari ancaman Persia, ancaman baru datang.
Bangsa Arab yang telah memeluk agama Islam mulai bangun dan pada pertengahan abad ke-7 M
mereka berhasil membangun kemaharajaan baru di atas wilayah yang dahulunya
diperebutkan oleh Byzantium dan Persia.
2. Kemaharajaan Persia.
Bangsa Persia termasuk
rumpun Indo-Arya, begitu pula bahasanya. Ke dalam rumpun bahasa-bahasa
Indo-Arya selain bahasa Persia termasuk bahasa-bahasa Latin, Yunani, Sanskerta
dan cabang-cabangnya di Eropah, Asia Tengah dan Asia Selatan. Sejak ratusan
tahun sebelum tarikh Masehi bangsa Persia telah muncul di panggung sejarah
sebagai penguasa wilayah yang luas di Asia Barat dan Tengah, dan sejak itu pula
mereka mengembangkan peradaban dan kebudayaannya. Nenek moyang mereka berasal
dari Kaukasus dan Dataran Tinggi Iran. Antara tahun 3000 SM hingga 1200 M
mereka melakukan hijrah besar-besaran ke Eropa dan bagian selatan Asia.
Nama Persia diambil dari
nama sebuah suku terkemuka yang mendiami provinsi Pars di timur laut Iran.
Orang-orang Pars berhasil membangun dua kemaharajaan Iran Purba, yaitu
Achemenia dan Parthi. Pada tahun 770-550 SM orang Persia berhasil menaklukkan
Babylonia, Assyria, Asia Kecil dan Mediterania. Tetapi pada tahun 300 SM kemaharajaan
Persia Lama karam setelah raja Macedonia, Iskandar Agung, menyerbu Babylonia,
Persia dan India dan memasukkan wilayah-wilayah tersebut ke dalam kekuasaan
Rumawi Timur. Kebudayaan dan bahasa Persia Lama ikut karam digantikan
kebudayaan dan bahasa Yunani.
Pada tahun 250 SM, di
bawah pimpinan Arshak dari suku Parthi, bangsa Persia bangkit kembali dan
mengusir penjajahan bangsa Rumawi dari bumi Persia. Arshak mendirikan dinasti
Achemenia atau Hakomaneshi, menyebut dirinya sebagai Pahlewi (orang yang berjasa
dalam perjuangan). Kebudayaan Persia dikembangkan lagi dari puing-puingnya.
Bahasa Persia baru diperkenalkan dengan diberi nama Bahasa Pahlewi. Tetapi
tulisan yang digunakan oleh aksara Aramaik. Di bawah pimpinan raja-raja Dinasti
Achemenia Persia tampil kembali di panggung sejarah sebagai bangsa besar.
Wilayah yang ditaklukkan semakin luas dan akhirnya berkembang menjadi sebuah
kemeharajaan besar, menjadi saingan tangguh kemaharajaan Byzantium.
Pada tahun 220 SM dinasti
Achemenia runtuh. Penggantinya dinasti Sassani yang didirikan oleh Ardasyir,
berhasil mempersatukan kembali kemaharajaan Persia yang terpecah belah pada
masa akhir pemerintahan dinasti Achemenia. Di bawah dinasti ini Persia kembali
tampil sebagai kemaharajaan besar yang maju dan ditakuti oleh Byzantium. Pada
masa pemerintahan Kisra Shapur II (309-379 M) Persia menaklukkan Arruha
(Edessa) dan Nasibein (Nisibis) yang dahulunya merupakan bagian dari
kemaharajaan Babylon dan direbut oleh Byzantium. Pada masa pemerintahan Kuphaz
II, yang sezaman dengan Justianus I, Persia meluaskan pengaruhnya hingga ke
wilayah Persia. Tetapi gerak maju tentaranya berhasil ditahan oleh panglima
perang Byzantium Belisarius. Dalam pertempuran di tep sungai Eufrat Persia
menderita kekalahan besar.
Maharaja Persia yang
masyhur ialah Anusyirwan (531-570 M). Pada masa ini Persia berhasil memperluas
wilayahnya dan berhasil mengusir pendudukan Byzantium di banyak tempat. Seperti
Justianus I, Anusyirwan adalah pembangun undang-undang baru Persia. Dia
menetapkan undang-undang pemerintahan dan pembayaran pajak yang didasarkan pada
keadilan. Dia juga masyhur sebagai pencinta ilmu pengetahuan, falsafah dan
kesusastraan. Tidak mengherankan apabila ilmu, sastra dan falsafah berkembang
pesat pada zamannya. Filosof-filosof Yunani, yang kebanyakan menganut madzab
Nestoria dan Monofisit dan diusir oleh kaisar Justinian, diterima dengan baik
oleh Anusyirwan. Dalam sebuah peperangan dengan Byzantium tentara Anusyirwan
memperoleh kemenangan dan sebagai syarat perdamaian ia meminta kaisar Byzantium
menerima kembali kepulangan tokoh-tokoh Nestoria dan Monifisit ke negerinya.
Berbeda dengan Justianus,
Anusyirwan menjamin kebebsan beragama dan berpikir bagi penduduk Persia. Dia
mendirikan Sekolah Tinggi Kedokteran dan Falsafah, serta menaja penerjemahan
besar-besaran buku ilmiah, sastra dan falsafah dari bahasa Yunani, Suryani,
India dan Persia lama.
Persia mulai mengalami
kemunduran pada masa pemerintahan Kosru II (590-628 M), yaitu seorang dari cucu
Anusyirwan. Pada masa pemerintahannya meletus beberapa peperangan dengan
Byzantium di bawah pemerintahan kaisar Heraclius.Pada peperangan yang awal
tentara Persia memperoleh kemenangan, tetapi karena kesalahan siasat pada
peperangan-peperangan selanjutnya keberuntungan berpihak pada Byzantium.
Pertempuran yang paling menentukan terjadi di Niniveh pada tahun 627 M. Persia
kalah telak. Sesudah peristiwa itu Persia dilanda pemberontakan yang membuat
Kosru II jatuh dari tahtanya. Sejak pada masa itulah kepercayaan rakyat Persia
hilang kepada raja mereka. Sebelum Kosru II memerintah penduduk Persia percaya
bahwa dalam tubuh raja-raja mereka tersimpan sifat suci yang diturunkan
langsung dari Ahura Mazda, Tuhan Cahaya. Tetapi setelah muncul raja-raja yang
lemah dan membawa bencana maka pupuslah kepercayaan seperti itu. Maharaja
Persia terakhir ialahYasjadirs III. Di bawah pemerintahan keadaan negeri kacau
balau, sehingga dengan mudah ditaklukkan oleh bangsa Arab pada tahun 642 M.
Agama Zoroaster. Pada awalnya orang-orang Persia,
seperti saudara serumpunnya orang-orang Arya dari Eropa dan India, menyembah
banyak dewa. Dewa-dewa Persia lama ini merupakan representasi dari
kekuatan-kekuatan alam. Tetapi pada abad ke-7 M muncul nabi yang mengajarkan
agama baru dari Azerbaijan, yaitu Zarathustra. Bersama ribuan pengikutnya
Zarathustra mengajarkan agama baru kepada bangsa Persia. Ajaran agamanya ini
didasarkan pada pembalikan terhadap ajaran lama. Dewa-dewa yang merupakan
representasi kekuatan baik bagi orang Arya dipandang sebagai representasi
kekuatan jahat dan disebut Ahriman atau Angro Manyu. Sedangkan asura yang
merupakan representasikan kekuatan jahat bagi orang Arya dibalik menjadi
representasi kekuatan baik dan disebut Ahura Mazda. Demikianlah Zarathustra
mengajarkan agama duotheis, faham dua tuhan dan dengan demikian memotong secara
revolusioner seluruh tradisi keagamaan Arya.
Berbeda pula dengan
tradisi Arya lama, Zarathustra tidak mengajarkan pemeluk ajarannya menyembah
patung-patung dan membangun kuil-kuil yang dipenuhi patung dewa-dewa. Tuhan
Cahaya atau Ahura Mazda disimbolkan sebagai Api. Karena kuoil-kuil yang mereka
bangun disebut Kuil Api, dan tidak lebih dari sebuah altar besar. Zarathustra
yang berasal dari suku Midia wafat pada tahun 583 SM. Menurut pandangannya alam
semesta ini berjalan dan bergerak mengikuti undang-undang tertentu. Di dalam
alam selalu ada pertentangan antara dua kekuatan jahat dan baik: antara gelap
dan terang, antara subur dan tandus dan seterusnya. Jiwa manusia merupakan
medan pertarungan antara kekuatan baik dan jahat yang tidak pernah berhenti.
Kitab suci agama ini ialah
Avesta dan tafsirnya disebut Zend-Avesta. Ditulis dalam bahasa Persia Kuno yang
mirip dengan bahasa Sanskerta. Pada zaman dinasti Achemenia dan Sassani agama
Zoroaster dijadikan agama resmi kerajaan. Agama ini terus berkembang sampai
dengan datangnya agama Islam, tetapi setelah Persia ditaklukkan bangsa Arab,
orang-orang Persia pun meninggalkan agama nenek moyang mereka. Namun
unsur-unsur kepercayaan Zoroaster dan kebudayaan Persia segera pula melekat dalam
kebudayaan Islam.
Di antara falsafah
Zoroaster yang penting ialah pembahasannya tentang jiwa manusia. Menurut
Zarathustra jiwa manusia itu dicipta dari tidak ada (ex nihilo) menjadi ada.
Jiwa manusia bisa mencapai kehidupan abadi apabila sanggup memerangi kejahatan
di muka bumi dan dalam dirinya sendiri. Bagi manusia Tuhan memberikan kebebasan
apakah memilih kejahatan atau kebaikan, dengan risiko masing-masing yang
berbeda.
Pada abad ke-3 M muncul
agama baru yang diajarkan oleh Manu atau Mani, seorang filosof, pelukis dan
sastrawan ulung. Agama ini merupakan campuran agama Zoroaster, Kristen dan
Buddha. Karena dianggap menyimpang dari ajaran Zoroaster, Manicheanisme atau
Manuwiyah dilarang oleh penguasa. Manu dan para pengikutnya dikejar oleh pihak
berwajib Persia untuk ditangkap, namun berhasil meloloskan diri. Manu dan
pengikutnya akhirnya melarikan diri ke Asia Tengah dan menyebarkan agamanya
hingga ke Cina, dan memperoleh banyak pengikut. Mereka membangun kuil-kuil yang
indah dipenuhi lukisan yang dibuat oleh Manu dan para pengikutnya. Pengaruh
Manu cukup besar di Asia Tengah dan Eropa. Orang Buddha dan Cina kemudian
meniru membuat kuil yang dipenuhi lukisan.
Inti ajaran Manu ialah
bahwa alam ini terjelma dari dua unsur, yaitu gelap dan terang. Dari terang
atau cahaya lahir kebaikan dan dari gelap lahir kejahatan. Dua kekuatan ini
saling bertarung, di dalam alam dan kehidupan manusia, tetapi tidak ada yang
kalah maupun menang. Berbeda dengan Zoroaster yang lebih cenderung kepada
dunia, Manu lebih cenderung pada spiritualisme. Ketika Manu pulang ke Persia,
dia ditanggap dan akhirnya dihukum mati. Tetapi namanya tetap dikenang sebagai
guru para pelukis Persia sampai pada masa kedatangan Islam.
Pada abad ke-5 M muncul
madzab baru agama Manu yang diasaskan oleh seorang filosof bernama Mazdak. Dia
membawa faham baru bagi agama duotheis.Yang membedakan dia dengan guunya ialah
asas ajarannya tentang persamaan. Bagi Mazdak semua manusia itu dilahirkan
sama, karena itu pula harus hidup sama pula. Persamaan terpenting ialah dalam
hak memiliki harta dan wanita. Pangkal perselisihan manusia ialah harta dan
wanita. Karena itu terhadap harta dan wanita tidak boleh ada pemilik khusus,
keduanya milik bersama. Inilah faham komunisme kuno yang diajarkan Mazdak.
Pemilikan terhadap wanita
dan harta dianggap sebagai kejahatan. Karena itu institusi penumpukan modal
(kapitalisme) dan perkawinan juga merupakan bentuk kejahatan yang harus
dijauhi. Baik Manuisme maupun Mazdakisme kelak memberi pengaruh besar terhadap
sekte-sekte dalam Islam, Kristen dan agama-agama lain yang dipengaruhi ajaran
falsafahnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar