Hubungan Islam dengan
Barat pada hari ini senantiasa identik dengan hubungan benturan ('alâqah
ash-shirâ') dan permusuhan. Barat senantiasa membangun dan menyebarkan opini
negatif terhadap Islam dan pemeluknya. Menurut mereka, Islam merupakan ancaman
terhadap peradaban umat manusia. Di sisi lain, Barat sering kali membanggakan
kemajuan peradaban mereka dan mengklaim bahwa hal itu merupakan warisan dari
kemajuan peradaban Yunani-Romawi semata. Mereka mengingkari adanya pengaruh dan
kontribusi Islam beserta peradabannya dalam membangkitkan Eropa modern sebagai
negeri asal bangsa Barat dan
memantapkan puncak kemajuannya. Jadi, bagaimana sebenarnya sumbangan Islam
terhadap kebangkitan peradaban Eropa? Insya Allah, tulisan berikut akan
menjelaskannya.
1. Kebangkitan Peradaban Islam
Awal mula kebangkitan
peradaban Islam dapat ditelusuri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
kegiatan intelektual di Baghdad dan Cordova. Pada masa pemerintahan
Al-Ma'mun (813-833 M), ia mendirikan Bait al-Hikmah di Baghdad yang menjadi
pusat kegiatan ilmiah (Abdul Karim, 2007: 154). Pendirian sekolah yang terkenal
ini melibatkan sarjana Kristen, Yahudi, dan Arab, mengambil tempat sendiri
terutama dengan "pelajaran asing", ilmu pengetahuan dan filosofi
Yunani, hasil karya Galen, Hippocrates, Plato, Arsitoteles, dan para
komentator, seperti Alexander (Aphrodis), Temistenes, John Philoponos, dan
lain-lain (Bammate, 2000: 36) Dalam masa itu, banyak karya Yunani yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Gerakan penerjemahan itu banyak dibantu
oleh orang-orang Kristen, Majusi, dan Shabi'ah. Di antara nama para penerjemah
yang terkenal adalah Jurjis (George) ibn Bakhtisyu (771 M), Bakhtisyu Ibnu
Jurjis (801 M), Gibril, Yahya ibn Musawaih (777-857 M), Hunain ibn Ishaq
(w. 873 M), dan lainnya (Abdul Karim, 2007: 175-176).
Sementara itu di Cordova,
aktivitas ilmiah mulai berkembang pesat sejak masa pemerintahan Abdurrahman II
(822-852 M). Ia mendirikan universitas, memperluas dan memperindah masjid
(Abdul Karim, 2007: 239). Cordova kemudian menjadi sangat maju dan tampil
sebagai pusat peradaban yang menyinari Eropa. Pada waktu itu, Eropa masih
tenggelam pada keterbelakangan dan kegelapan Abad Pertengahan. Dr. Muhammad
Sayyid Al-Wakil (1998: 321) menukil perkataan seorang penulis Amerika yang
menggambarkan keadaan Eropa pada masa itu, "Jika matahari telah
terbenam, seluruh kota besar Eropa terlihat gelap gulita. Di sisi lain, Cordova
terang benderang disinari lampu-lampu umum. Eropa sangat kumuh, sementara di
kota Cordova telah dibangun seribu WC umum. Eropa sangat kotor, sementara
penduduk Cordova sangat concern dengan kebersihan. Eropa tenggelam dalam
lumpur, sementara jalan-jalan Cordova telah mulus. Atap istana-istana Eropa
sudah pada bocor, sementara istana-istana Cordova dihiasi dengan perhiasan yang
mewah. Para tokoh Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri, sementara anak-anak
Cordova sudah mulai masuk sekolah.
Sejarah Eropa sendiri pada
Abad Pertengahan penuh dengan perjuangan sengit antara kaum intelek dan
penguasa gereja. Kaum intelek Eropa berontak lebih dari satu kali, tetapi
berulang-ulang pemberontakan mereka berhasil dipatahkan oleh gereja (Asad,
1989: 36). Penguasa gereja itu mendirikan berbagai mahkamah pemeriksaan (Dewan
Inquisisi) untuk menghukum kaum intelek serta orang-orang yang dituduh kafir
dan atheis. Operasi pembantaian digerakkan secara besar-besaran agar di Dunia
Kristen tidak tertinggal seorang pun yang dapat menjadi akar perlawanan
terhadap gereja. Diperkirakan antara tahun 1481 hingga 1901, korban pembantaian
Dewan Inquisisi mencapai 300 ribu jiwa termasuk 30 ribu jiwa dibakar hidup-hidup,
di antaranya adalah sarjana fisika terkemuka Bruno. Ia dihukum mati dengan cara
dibakar hidup-hidup. Selain Bruno, Galileo Galilei juga harus menjalani hukuman
sampai mati di penjara karena pendapatnya yang menyatakan bahwa bumi beredar
mengitari matahari (An-Nadawi, 1988: 250).
2.
Eropa
dan Sentuhan Peradaban Islam
Melalui interaksinya
dengan Dunia Islam, Eropa menyadari keterbelakangan dan ketertinggalan mereka.
Interaksi tersebut menyebabkan adanya sentuhan peradaban Islam terhadap mereka.
Proses persentuhan itu terjadi melalui konflik-konflik bersenjata, seperti
dalam Perang Salib, maupun melalui cara-cara damai seperti di Andalusia.
Bagaimanapun juga dalam
bidang peradaban materi, Eropa banyak berhutang budi terhadap Perang Salib.
Perang ini telah membawa kaum Kristen ke dalam kontak langsung dengan
orang-orang Muslim di tanah Islam itu sendiri. Orang-orang Kristen mendapati
bahwa di Levant banyak hal baru bagi mereka dan teknik-teknik yang tidak
dikenal di Barat. Oleh karena itu ketika terjadi gencatan senjata, mereka
memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari teknik-teknik baru di bidang
pertanian, industri dan kerajinan, serta melakukan hubungan perdagangan dengan
orang-orang Muslim (Bammate, 2000: 44-45). Tidak sedikit di antara orang-orang
Kristen yang ikut Perang Salib adalah para saudagar yang berpendapat bahwa
perang ini merupakan kesempatan untuk mengadakan hubungan dagang baru.
Lama-kelamaan, Perang Salib menyesuaikan diri dengan usaha politik perdagangan
bandar-bandar Italia, terutama Venezia. Selain Venezia, kota-kota perdagangan
di Italia Utara, Jerman Selatan, dan Belanda juga mulai berkembang akibat
Perang Salib (Romein, 1956: 52). Dari kota-kota inilah nantinya muncul
Renaissance.
Selain melalui Perang
Salib, cara lain terjadinya sentuhan peradaban Islam terhadap Eropa adalah
melalui cara yang murni damai di Andalusia. Ketika Eropa masih larut dalam
keterbelakangannya, Andalusia telah tumbuh dalam kemajuan dan kegemilangan
peradaban. Ustadz Muhammad Al-Husaini Rakha mengatakan, "Di antara bukti
kebesaran peradaban Spanyol bahwa di Cordova saja terdapat lima puluh rumah
sakit, sembilan ratus toilet, delapan ratus sekolah, enam ratus masjid,
perpustakaan umum yang memuat enam ratus ribu buku dan tujuh puluh perpustakaan
pribadi lainnya." (Al-Wakil, 1998: 319).
Orang-orang Eropa aktif
berinteraksi dengan orang-orang Arab dan mengambil ilmu dari mereka serta
mengambil manfaat dari peradaban mereka. Orang-orang Eropa datang ke Andalusia
untuk belajar di universitas-universitas umat Islam. Di antara mereka terdapat
para tokoh gereja dan para bangsawan. Sebagai contoh salah seorang yang
sangat luar biasa kepandaiannya pada abad X bernama Gerbert d'Aurillac. Ia
menjadi paus Perancis pertama di bawah gelar Sylvester II. Ia menghabiskan tiga
tahun di Toledo dengan para ilmuwan Muslim. Ia belajar matematika, astronomi,
kimia, dan pelajaran-pelajaran lainnya. Beberapa wali gereja/pendeta tinggi
dari Perancis, Inggris, Jerman dan Italia juga lama belajar di Universitas Muslim
Spanyol (Bammate, 2000: 49).
Ada kasus menarik yang
dialami oleh Frederik II (1211-1250) Kaisar Jerman yang juga menjadi raja
Napels dan Scilia. Ia merupakan seorang yang berjiwa besar dan berpengetahuan
tinggi. Ia dituduh orang masuk Islam dengan diam-diam karena kaisar itu lebih suka
tinggal di Italia Selatan dalam lingkungan alam Timur daripada di Jerman yang
belum maju. Di Napels didirikannya sebuah universitas dengan tujuan memindahkan
pengetahuan Arab ke Italia (Romein, 1956: 58).
Selain Frederik II, raja
bangsa Eropa lainnya yang menaruh minat sangat besar terhadap kemajuan ilmu
pengetahuan kaum Muslimin adalah George III, raja Inggris. Dengan resmi, ia
menulis surat kepada Hisyam III khalifah kaum Muslim di Andalusia agar
diizinkan mengirimkan delegasinya untuk belajar di sekolah umat Islam
Andalusia. George III berkata dalam suratnya,
Dari George Raja Inggris,
Ghal, Swedia, dan Norwegia kepada khalifah kaum Muslim di Andalusia paduka yang
mulia Hisyam III.
Dengan hormat,
Paduka yang mulia.
Kami telah mendengar kemajuan yang dicapai oleh sekolah-sekolah ilmu
pengetahuan paduka dan sekolah-sekolah industri di negara paduka. Oleh karena itu, kami bermaksud
mengirim putra-putra terbaik kami untuk menimba ilmu-ilmu tersebut di negeri
paduka yang mulia. Ini sebagai langkah awal meniru paduka yang mulia dalam
menyebarkan ilmu pengetahuan di wilayah negara kami yang dikelilingi kebodohan
dari empat penjuru.
Kami tunjuk Dubanet, putri saudara kami sebagai kepala delegasi wanita
Inggris untuk memetik bunga agar ia dan teman-teman delegasinya bisa sehebat
paduka, menjaga akhlak yang mulia dan memperoleh simpati wanita-wanita yang
akan mengajari mereka.
Hamba titipkan lewat
raja kecil kami ini, hadiah apa adanya untuk paduka yang mulia dan sudilah
kiranya paduka menerimanya dengan senang hati.
Tertanda
Hamba paduka yang
patuh
George III
(Al-Wakil, 1998:
319-320).
Orang-orang Eropa yang belajar di universitas-universitas Andalusia itu
melakukan gerakan penerjemahan kitab-kitab para ilmuwan Muslim yang berbahasa
Arab ke bahasa Latin dan mulailah buku-buku tersebut diajarkan di
perguruan-perguruan tinggi Barat. Ketika itu, bahasa Arab menjadi bahasa
terdepan di dunia dalam masalah ilmu pengetahuan. Orang yang ingin mempelajari
ilmu pengetahuan harus
pandai berbahasa Arab. Bercakap-cakap dengan bahasa tersebut merupakan bukti
tingkat wawasan yang tinggi (Al-Qaradhawi, 2005: 105). Philip K. Hitti
mengatakan, "Selama berabad-abad, Arab merupakan bahasa pelajaran,
kebudayaan dan kemajuan intelektual bagi seluruh dunia yang berperadaban, terkecuali
Timur Jauh. Dari abad IX hingga XI, sudah ada hasil karya di berbagai bidang,
di antaranya filsafat, medis, sejarah, agama, astronomi dan geografi banyak
ditulis dalam bahasa Arab daripada bahasa lainnya." (Bammate, 2000: 24).
Pada abad XII diterjemahkan
kitab Al-Qanûn karya Ibnu Sina[2] mengenai kedokteran. Pada akhir abad XIII
diterjemahkan pula kitab Al-Hawiy karya Ar-Razi yang lebih luas dan lebih tebal
daripada Al-Qanûn. Kedua buku ini hingga abad XVI masih menjadi buku pegangan
bagi pengajaran ilmu kedokteran di perguruan-perguruan tinggi Eropa. Buku-buku
filsafat bahkan terus berlangsung penerjemahannya lebih banyak daripada itu.
Bangsa Barat belum pernah mengenal filsafat-filsafat Yunani kuno kecuali
melalui karangan dan terjemahan-terjemahan para ilmuwan Muslim (As-Siba'i,
2002: 41). Tercatat di antara nama-nama para penerjemah Eropa itu adalah Gerard
(Cremona) yang menerjemahkan fisika Aristoteles dari teks bahasa Arab, Campanus
(Navarra), Abelard (Bath), Albert dan Daniel (Morley) Michel Scot, Hermann The
Dalmatian, dan banyak lainnya (Bammate, 2000: 49).
Banyak orang Barat yang jujur mengakui bahwa pada Abad Pertengahan, kaum
Muslim adalah guru-guru bangsa Eropa selama tidak kurang dari enam ratus tahun.
Gustave Lebon mengatakan
bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab (Islam), terutama buku-buku keilmuan,
hampir menjadi sumber satu-satunya bagi pengajaran di banyak perguruan tinggi
Eropa selama lima atau enam abad. Dapat dikatakan bahwa pengaruh bangsa Arab
dalam beberapa bidang ilmu, seperti ilmu kedokteran, masih berlanjut hingga
sekarang. Buku-buku karangan Ibnu Sina pada akhir abad yang lalu masih
diajarkan di Montpellier. Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa
Arablah yang dijadikan sandaran oleh Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Arnold de
Philippe, Raymond Lull, San Thomas, Albertus Magnus, serta Alfonso X dari Castella
(As-Siba'i, 2002: 42).
Orang Eropa juga
memanfaatkan keunggulan ilmu orang Muslim dalam beberapa keperluan mereka.
Vasco da Gama misalnya, yang merintis jalan bagi Eropa menuju Semenanjung
Harapan, setelah menemukan jalan tersebut ia bertemu dengan seorang pelaut
Muslim Arab yang bernama Ibnu Majid. Maka Ibnu Majid memperlihatkan kepadanya
beberapa alat untuk mengarungi laut yang dimilikinya, seperti kompas dan sejenisnya.
Lalu Ibnu Majid meninggalkan Vasco da Gama sebentar. Kemudian ia masuk ke
ruangannya dan kembali menemui Vasco da Gama bersama alat-alat yang membuatnya
terkagum-kagum. Selanjutnya, Vasco da Gama menawarkan kepada Ibnu Majid agar
menjadi guidenya menuju gugusan pulau India Timur Quthb, 1995: 230 dan 1996:
310).
3.
Renaissance
dan Kebangkitan Eropa
Persentuhan Eropa dengan
peradaan Islam benar-benar memberikan pengaruh luar biasa terhadap kehidupan
mereka. Pengaruh terpenting yang diambil Eropa dari pergaulannya dengan umat
Islam adalah semangat untuk hidup yang dibentangkan oleh peradaban dan ilmu
Islam. Keterpengaruhan Eropa pada peradaan Islam itu bersifat menyeluruh.
Hampir tidak ada satu sisi pun dari berbagai sisi kehidupan Eropa yang tidak
terpengaruh oleh peradaban Islam (Quthb, 1995: 251). Dalam bukunya Making of
Humanity, Robert Briffault menegaskan, "Tidak hanya ilmu yang mendorong
Eropa kembali pada kehidupan. Tetapi pengaruh-pengaruh lain yang masuk terutama
pengaruh-pengaruh peradaban Islam yang pertama kali menyalakan kebangkitan
Eropa untuk hidup." (Quthb, 1996: 35). Al-Qaradhawi (2005: 121) menulis
bahwa metode, sekolah, universitas, ulama, dan buku menjadi pengaruh serta
penggerak kebangkitan Eropa
Akhirnya pada abad XV
muncullah gerakan di Eropa yang dinamakan renaissance. Renaissance berasal dari
kata renasseimento yang berarti lahir kembali atau rebith sebagai manusia yang
serba baru (Suhamihardja, 2002: 5). Renaissance diartikan sebagai kelahiran
kembali atau kebangkitan kembali jiwa atau semangat manusia yang selama Abad
Pertengahan terbelenggu dan diliputi oleh mental inactivity.[3] Renaissance
disebut juga Abad Kebangkitan karena ia adalah awal kebangkitan manusia Eropa
yang ingin bebas dan tidak lagi terbelenggu sebagai kehendak untuk
merealisasikan hakikat manusia sendiri. Renaissance merupakan gerakan yang
menaruh minat untuk mempelajari dan memahami kembali peradaban dan kebudayaan
Yunani dan Romawi kuno (Suhamihardja, 2002: 3).
Renaissance terjadi
melalui proses yang sangat panjang dimana pengaruh Islam sangat dominan dan
tidak bisa dipungkiri. Kehidupan intelektual di Eropa sebagai warisan pemikiran
yang mulai dikembangkan pada abad XII menyebabkan berkembangnya ilmu
pengetahuan sejati yang sebagian besar maju berkat penggunaan ilmu pasti dari
kalangan filosof-filosof bangsa Arab. Dengan munculnya renaissance, maka
perhatian dan penggalian terhadap filsafat Abad Kuno, terutama filsafat
Aristoteles, semakin berkembang. Orang Eropa Barat untuk pertama kalinya
mengenal tulisan-tulisan Aristoteles melalui terjemahan-terjemahan bahasa Arab,
serta melalui ajaran-ajaran dan komentar-komentar yang disusun filosof-filosof
Arab yang menafsirkan filsafat Aristoteles yang telah mendapat pengaruh dari
paham Neo-Platonisme.
Demikian juga, metode eksperimen
mula-mula dikembangkan oleh sarjana-sarjana muslim pada zaman keemasan Islam.
Ilmu pengetahuan lainnya mencapai klimaks antara abad IX hingga abad XII.
Semangat untuk mencari kebenaran yang dimulai oleh pemikir-pemikir Yunani dan
hampir padam dengan munculnya kekaisaran Romawi, tetapi kemudian dihidupkan
kembali dalam kebudayaan Islam. Dalam perjalanan sejarah, maka lewat
sarjana-sarjana muslimlah dan bukan lewat perjalanan Latin, dunia modern ini
sekarang mendapatkan dasar-dasarnya (Suhamihardja, 2002).
Briffault berkata,
"Eropa lama, sebagaimana kita lihat, tidak menampakkan karya-karya ilmiah.
Ilmu perbintangan dan ilmu pasti orang Yunani adalah ilmu asing yang dimasukkan
dari luar negeri dan dipungut dari orang lain. Dalam waktu lama Yunani tidak
mau menyesuaikan diri. Tetapi kemudian secara bertahap menyatu dengan
kebudayaan Yunani. Lalu Yunani menyusun aliran-aliran, mengundangkan
hukum-hukum dan membuat teori-teori. Tetapi kegigihan metode penelitian,
pengumpulan dan pemusatan berbagai maklumat (informasi dan data-data) yang
positif, metode rinci dalam ilmu, pengamatan yang teliti dan terus menerus
serta penelitian empirik, semuanya sama sekali asing dari kebudayaan Yunani.
Akan halnya yang kita sebut ilmu, muncul di Eropa sebagai hasil semangat
penelitian dan metode analisis baru dari cara percobaan, pengamatan dan
penganalogian serta dikarenakan perkembangan ilmu pasti yang sebelumnya sama
sekali tidak dikenal oleh Yunani. Semangat dan metode ilmiah itu dimasukkan
oleh Arab ke dalam Dunia Eropa."(Quthb, 1996: 35).
Dalam bukunya yang
berjudul Târîkh 'Ilm Al-Falâk, Dolandbeer berkata, "Para observator Yunani
hanya berjumlah dua atau tiga orang saja. Namun, para observator bangsa Arab
jumlahnya banyak sekali. Adapun dalam kimia, tidak ada seorang pun bangsa
Yunani. Namun, para observator bangsa Arab berjumlah ratusan." (Al-Qaradhawi,
2005: 116).
Ilmu pengetahuan berkembang pesat di
Eropa sejak masa renaissance. Berbagai riset dan observasi ilmiah dilakukan
oleh para ilmuwan Eropa. Dalam kenyataannya, banyak penemuan para ilmuwan itu
yang bertentangan dengan doktrin gereja. Oleh karena dianggap sebagai ancaman,
pihak penguasa gereja melakukan penekanan dan tindakan kekerasan kepada para
ilmuwan dan orang-orang yang dipandang menentang gereja. Tidak sedikit para
ilmuwan diburu, diajukan ke pengadilan gereja, dan dijatuhi hukuman mati. Di
antara mereka adalah Copernicus, Galileo Galilei, Bruno, dan sebagainya.
Gereja berusaha membendung
arus renaissance yang semakin deras dan mempertahankan otoritasnya. Akan
tetapi, usaha pihak gereja itu dalam perjalanannya menjadi bumerang bagi mereka
sendiri. Masyarakat Eropa yang telah jenuh hidup di bawah pengaruh kekuasaan
gereja serta ingin bebas akhirnya melancarkan reformasi-reformasi agama untuk
menentang kekuasaan Paus yang zhalim. Gerakan-gerakan reformasi tersebut juga
tidak dapat dilepaskan dari adanya pengaruh Islam. Bahkan, pengaruh Islam itu
sudah terjadi sejak masa awal persentuhan Eropa dengan peradaban Islam. Ahmad
Amin mengatakan, Muncullah
pertentangan di kalangan orang-orang Nasrani karena pengaruh Islam. Di
antaranya pada abad kedelapan Masehi atau abad-abad kedua dan ketiga Hijriah
lahirlah di Septimania gerakan yang menyerukan pengingkaran pengakuan dosa di
depan pendeta karena mereka tak mempunyai hak untuk hidup. Dan manusia hanya
untuk tunduk kepada Allah dalam meminta pengampunan dosa-dosanya. Islam tidak
mempunyai pendeta dan kaum paderi, maka di dalam Islam tidak dikenal pengakuan
dosa. Demikian pula terdapat gerakan yang menyerukan penghancuran gambar-gambar
serta patung-patung keagamaan (iconoclast). Pada abad kedelapan dan kesembilan
Masehi atau abad ketiga dan keempat Hijriah muncul mazhab Nasrani yang menolak
pengkudusan gambar-gambar dan patung-patung. Pada tahun 726 M, Kaisar Leo III
dari Romawi mengeluarkan perintah yang melarang pengkudusan gambar-gambar dan
patung-patung dan perintah lain pada tahun 730 M yang menganggap perbuatan
tersebut sebagai paganisme. Demikian pula Konstantin X dan Leo IV pada saat
Paus Gregorius II dan III dan Germanius, Uskup Konstantinopel serta kaisar
wanita Irene menyokong penyembahan gambar-gambar, sehingga terjadilah
pergolakan hebat antara kedua golongan itu. (An-Nadawi, 1988: 186-187)
Banyak peneliti menegaskan
bahwa Martin Luther dalam gerakan reformasinya terpengaruh oleh pandangan para
filosof Arab dan ulama Muslim mengenai agama, akidah, dan wahyu.
Perguruan-perguruan tinggi Eropa pada masa Martin Luther selalu berpegang pada
buku-buku para filosof Muslim yang jauh sebelumnya telah diterjemahkan ke
bahasa Latin (As-Siba'i, 2002: 41).
Begitu pula pembangkangan-pembangkangan terhadap kekuasaan-kekuasaan feodal
yang zhalim yang menjadikan tuan tanah sebagai badan legislatif, badan
eksekutif, dan badan yudikatif sekaligus sehingga melahirkan Revolusi Perancis
yang menuntut pemisahannya, juga karena terpengaruh dengan Islam (Quthb, 1995:
252 dan As-Siba'i, 2002: 41). Orang-orang
Eropa datang ke negeri Syiria dalam Perang Salib. Mereka melihat bahwa di
Kekhilafahan Islam, rakyat ikut mengawasi penguasanya. Penguasa hanya tunduk
pada pengawasan rakyat. Melihat hal tersebut, raja-raja di Eropa membandingkan
antara kebebasan raja-raja Arab dan kaum Muslimin dengan ketundukan mereka
sendiri terhadap kekuasaan Roma dan kekhawatiran mereka akan nasib buruknya bila
tidak lagi tunduk kepada raja Roma yang agamis.
Setelah orang-orang Eropa
itu kembali ke negerinya, mereka mengadakan pemberontakan hingga memperoleh
kemerdekaan. Rakyat mereka pun kemudian memberontak kepada mereka sehingga
memperoleh pula kemerdekaan. Setelah itu, muncullah Revolusi Perancis dan
prinsip-prinsip yang diproklamasikan tidak lebih banyak daripada yang
diproklamasikan dalam peradaban kita pada dua belas abad sebelumnya (As-Siba'i,
2002: 47).
4.
Pengaruh Kebangkitan Eropa terhadap
Dunia Islam
Pada saat Eropa mulai bangkit dan melaju dengan pesat dalam berbagai bidang
kehidupan, Dunia Islam justru mengalami kemunduran dan keterbelakangan dalam
berbagai bidang kehidupan. Selain
karena penjajahan yang mencengkram Dunia Islam, umat Islam dilanda perpecahan
sengit antarmadzhab serta diperparah lagi dengan munculnya berbagai sekte dan
aliran yang menyimpang dari ajaran Islam. Pada saat itu, umat Islam
dipimpin oleh Turki yang memegang tampuk kekhilafahan. Bukti keterbelakangan
Turki di bidang ilmu dan teknologi bisa dilihat pada kenyataan bahwa baru pada
abad XVI Turki mampu mendirikan industri kapal. Sementara percetakan, pusat
pelayanan kesehatan serta akademi-akademi militer seperti yang terdapat di
Eropa, baru memasuki Turki pada abad XVIII. Pada akhir abad itu Turki masih
terbelakang di bidang industri dan penemuan-penemuan ilmiah, hingga ketika
menyaksikan balon terbang melayang-layang di angkasa ibukota, mereka mengira
itu ialah perbuatan tukang sihir. Dalam hal menciptakan sarana kemajuan dan kesejahteraan
umum, negeri-negeri Eropa yang kecil lebih cepat daripada Turki, sedangkan
negeri Mesir lebih cepat empat tahun dibanding dengan Turki dalam penggunaan
kereta api, dan beberapa bulan dalam penggunaan prangko (An-Nadawi, 1988: 221).
Setelah Eropa kuat karena
mengambil ilmu dan peradaban dari Islam, mulailah Eropa menjajah umat Islam dan
merampas kekayaannya. Inggris menjajah India, Mesir[5], Irak dan Yordania.
Perancis menjajah Tunisia, Aljazair, Suriah dan Libanon. Di Asia Tenggara,
Inggris menjajah Malaysia dan Singapura. Belanda menjajah Indonesia. Sedangkan
Spanyol menjajah Filipina. Selain
menyebarkan ajaran Kristen, para penjajah Eropa itu juga menguras kekayaan umat
Islam. Akhirnya kekayaan Eropa membengkak sehingga dengan harta rampasan itu
mereka mampu memperkuat posisinya dan mengintensifkan penelitian ilmiah yang
pada gilirannya membuat Eropa semakin kuat dan berkuasa (Quthb, 1995: 289).
Jatuhnya berbagai wilayah
Islam ke tangan imperialisme Barat menginsafkan Dunia Islam akan kelemahannya
dan menyadarkan umat Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban baru yang
lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka
Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan kekuatan umat Islam
kembali. Pada periode ini, timbullah ide-ide pembaharuan dalam Dunia Islam
(Nasution, 1992: 14). Dari Mesir muncullah Jamaluddin al-Afghani (1839-1897)
dengan ide Pan-Islamismenya yang kemudian diikuti oleh muridnya, Muhammad Abduh
(1849-...). Sebelum itu, di Hijaz Arabia juga telah muncul gerakan
pembaharuan yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787). Meski
kelahirannya merupakan respons terhadap penyimpangan praktek-praktek keagamaan
yang banyak terjadi di Hijaz dan sekitarnya, akan tetapi gerakan ini juga mempunyai
pengaruh di Dunia Islam dalam membangkitkan kesadaran umat Islam untuk melawan
kaum penjajah, terkhusus di Indonesia. Demikian juga ide Pan-Islamisme yang
diusung oleh Al-Afghani banyak mempengaruhi tokoh-tokoh pergerakan Islam
Indonesia yang aktif memperjuangkan Islam pada zaman penjajahan Belanda.
Jadi, renaissance yang telah membangkitkan Eropa dari keterbelakangannya
itu membawa dampak luar biasa tidak hanya bagi masyarakat Eropa, namun juga
bagi Dunia Islam. Oleh
karena Dunia Islam justru mengalami kemunduran ketika Eropa mengalami
kebangkitan, maka dampak yang diterima oleh Dunia Islam tidak sedikit adalah
dampak negatif. Selain penjajahan negeri-negeri umat Islam, dampak negatif
renaissance terhadap Dunia Islam tersebut dikemukakan oleh Abul Hasan Ali
An-Nadawi sebagai berikut,
Dunia Islam dipaksa keadaan untuk tunduk pada pola ajaran materialistis
sejak ia ditimpa musibah kemunduran ilmiah dan ketumpulan berpikir dan tidak
menemukan jalan lain kecuali lari ke dalam pelukan Eropa lalu menerima pola
ajaran ini dengan segala ekses negatifnya, dan itulah pola berpikir yang
merajai seluruh kawasan Dunia Islam dewasa ini.
Dampak yang pasti dari
pola ini adalah pergumulan antara kepribadian Islam, jika ini belum tercampak
dari hati pemuda Islam, dan kepribadian baru, antara ajaran moralitas Islam dan
ajaran moralitas Eropa, antara kriteria dan sistem nilai lama dan baru. Dampak
lain ialah timbulnya sikap ragu-ragu dan kemunafikan di kalangan kaum
terpelajar, kurangnya kesabaran dan keuletan serta kehidupan yang lebih
mementingkan segi-segi duniawi, dan berbagai ciri kebudayaan Eropa lainnya
(An-Nadawi, 1988: 378).
Demikianlah proses
pengaruh Islam terhadap kebangkitan peradaban Barat. Tanpa interaksinya dengan
Dunia Islam, Barat tidak akan mampu mencapai kemajuan seperti yang mereka
banggakan dengan penuh kesombongan pada hari ini. Apabila kemajuan peradaban
Islam membawa rahmat dan anugerah bagi seluruh dunia, sebaliknya kemajuan
peradaban Barat yang materialistis tidak jarang justru membawa bencana dan musibah
bagi umat manusia. Akankah umat Islam bangkit untuk membangun kembali peradaban
mereka yang pernah menyinari dunia dengan gemilang? Itu semua menjadi tantangan
dan tanggung jawab bagi generasi Islam pada hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar